Pertama kali saya kenal kata selingkuh, mungkin
usia SD atau SMP, saya kurang begitu ingat.
Saya nggak bisa bicara banyak soal selingkuh
yang pertama kali saya kenal, saya hanya bisa
bilang dalam “perselingkuhan” ada begitu banyak
orang yang disakiti.
Dan itu menimbulkan trauma
yang cukup berat buat saya yang kala itu masih
sangat rapuh *halah*.
Kemudian, saya pacaran, kelas 1 SMP. Putus
karena saya diselingkuhi. Pacar saya waktu itu
ternyata berpacaran dengan 2 pria lain,
yang mana kami bertiga ini beda sekolah.
Bisa
dibilang mantan pacar saya cukup populer; jago
main karet, banyak teman dimana-mana,
Cantik(pastinya).
Pada akhirnya saya tahu karena
sahabat-sahabat pacar saya mengadu.
Kebetulan
saya pacar yang paling disukai oleh mereka,
entah kenapa, mungkin karena saya baik dan
asik, bisa nyambung sama teman-teman pacar
saya :p
Pacar saya waktu itu aja kadang suka
kesal karena teman-temannya sering main sama
saya tanpa kehadiran dia.
Wajar saja, pacar
masa kecil saya itu punya terlalu banyak cowok
yang harus di-maintain.
Setelah saya memutuskan dia, pada akhirnya dia
yang ngejar-ngejar saya. Sampai dua pria
lain itu datang ke rumah saya, untuk bilang
bahwa cewek itu paling sayang sama saya dan
nyuruh saya balikan sama dia.
I was like, kentut.preeettttt…
kenapa saya harus ingin balik dengan dia si lubang pantat?...
Yang pada akhirnya nggak lama setelah itu saya
pacaran dengan cewek baik yang setia sama
saya, tapi akhirnya saya tinggalin juga karena
terlalu cuek.
Oh ya, saya pria yang senang
mengejar.
Ketika duduk di bangku SMA, saya berpacaran
dengan kakak kelas yang cukup populer.
Saya
tahu kalau untuk jadian sama dia, saya
sampai meninggalkan pacar saya yang bersekolah
di tempat lain.
Saya tahu belakangan ini hal yg salah.
Tapi pada
akhirnya, ketika ia sudah kuliah dan saya masih
duduk di bangku 2 SMA, ia muncul ke sekolah saya
membawa cowok lain.
Teman kampusnya.
Akhirnya saat itu juga saya memutuskan pacar
saya.
Nggak pake bilang putus, pokoknya
ninggalin aja gitu.
Sisanya, waktu SMA saya berpacaran dan putus
dengan beberapa cewek. Hanya sebulan dua
bulan, selesai.
Nggak cocok, bubar.
Bubarnya
juga nggak pake berantem.
Ya bubar aja gitu
baik-baik.
Kemudian saya ketemu cewek yang bisa bikin saya
jatuh hati pada pandangan pertama. Pinter,
Cantik, anak IPA*halah*, masa depan cerah,
romantis, endeskrey endesbrey.endescuy endesces.
Kalo ngobrol
udah segala bahas nikah, dianya loh yah, bukan saya.
Tiba-tiba, blahhhhhhhh jegerrrrr, dia udah punya cOWOK.
Ternyata
saya cuma selingkuhan.
Putus lah udah, nangis
bombay tapi gak keluar air mata.
Saya pikir, saya ini kok apes banget, ya.
Diselingkuhin melulu oleh orang yang saya
sayang.
Di luar saya, saya pun menjadi saksi berbagai
macam perselingkuhan.
Misalnya teman saya,
yang jadi simpenan istri orang.
Pada akhirnya
suaminya menceraikan istrinya dan meninggalkan
sang suami beserta 3 anaknya untuk menikah
dengan teman saya.
Saya tidak pernah datang ke
pernikahan mereka.
TAK Sudi .....memberi selamat pun
nggak.
Maaf-maaf aja.saya malu lah punya temen kaya gto.
Kemudian saya harus mendengar curhat sahabat,
teman, kolega, tentang perselingkuhan mereka.
Ada yang main-main, ada yang serius.
Macam-
macam. Sejak saya SMA sampai sekarang.
Semakin dewasa dan tua manusia, semakin mereka
senang selingkuh.
Belum lagi dengan teman-
teman saya yang menjadi korban selingkuh.
Ketika mereka curhat menangis ke saya, atau
curhat via chat, hati saya ikut hancur bersama
mereka.
Pada akhirnya, hal-hal seperti ini membuat saya
menjadi orang yang menghargai hubungan dan
komitmen.
Nggak berlebihan kok ini.
Selama saya
pacaran, nggak bohong kalau banyak godaan
untuk saya.
Dari cewek-cewek yang ngasih
perhatian, yang suka nelpon, yang nyelip-nyelip
padahal tahu saya punya pacar. Ada yang
menarik perhatian saya, ada juga yang nggak
saya peduliin dari awal.
Ada yang belum apa-apa
udah kege-eran, padahal mah saya emang nggak
nyangka dia naksir, kirain temen aja.
Jadi pas
saya pamer foto pacar di bbm, saya malah dibilang
ngasih harapan palsu.
Lah, mana saya tahu situ
naksir.
Saya mah ama wanita lempeng aja.
Tapi nggak terpikir sedikitpun di pikiran saya
untuk selingkuh.
Saya selalu mikir, kalau saya selingkuh, pasti
bakal nyesel.
Karena kita nggak akan pernah
tahu, apakah orang kedua ini worth it? Apakah
mereka lebih baik?
Nggak mungkin saya menukar
emas dengan batu.
Kalau saya nggak suka sama
pasangan saya, saya nggak akan segan untuk
ngomong baik-baik dan mengajak pisah.
Daripada
selingkuh.
Saya tahu sakitnya diselingkuhi, makanya saya
nggak mau selingkuh.
Saya tahu rasanya sejak
lama, sejak saya masih kecil.
Kalau kita ngejalanin hubungan yang cukup lama,
bohong kalau kita bilang nggak pernah tertarik
sama orang lain.
Iya, itu pun saya akui.
Tapi
saya nggak pernah ngapa-ngapain.
Nggak
ngedeketin atau apa.
Toh, pada akhirnya
perasaan itu hanya bersifat sesaat, karena di
dalam hati kita, kita tahu siapa yang kita
sayang.
Kalau kata temen saya, “Hati mah,
selalu akan kembali ke yang punya.”.
Itu bener.
Saya rasain sendiri.
Masalahnya adalah ketika kita, ada di pihak yang
dijadikan pilihan.
Saya merasa lingkaran hidup saya kok muternya ke
situ-situ lagi.
I never fucked up a relationship. I always value
my partner.
Even itu friend yang nggak saya
sayang sekalipun.
Saya tetep care, tetep
menghormati dia sebagai wanita-wanita .
Oh you can
ask my mantan,
I bet they would say nice things
about me (palingan komentar miringnya cuma
“susah diapa-apain, anaknya nggak mau-an,cuek,mudah marah.hahahaha”).
Pada akhirnya mantan-mantan yang selingkuh
itu menghubungi saya di kemudian hari. Cek
cuaca doang…
Tapi ya itu… orang yang memilih untuk
selingkuh, nggak pernah puas dengan apa yang
mereka punya.
Saya pernah nonton Oprah,(bukan opera mini...oprah show itu nah)
tentang wanita-wanita yang diselingkuhi (-yang
kemudian membunuh suaminya karena sakit hati,
kemudian dipenjara seumur hidup – well bukan
itu poin saya).
Mereka adalah wanita cantik,
yang mengurus suami, ngurus badan, setia,
bahkan ada yang bekerja untuk membiayai
suaminya.
Dan pada akhirnya suami mereka malah
selingkuh. Saya nggak habis pikir… gila, ni
perempuan pada kurang apa, sih? Setia, cantik,
ngurus suami de el el. Kok masih tega?
You know, menjadi pilihan, dan pilihan yang
disisihkan pula, itu hal yang gak enak banget.
I’ve been through this shits several times. I’ve
improved myself. Serius,abis liat itu acara saya dapat hidayah#preet bangat.
Yang tadinya cuek, jadi
perhatian. Yang tadinya nggak pernah mesra,
jadi mesra, mulai belajar ngomong pake “aku-
kamu”, “sayang”, nanya kabar dll.
Kekurangan
saya mah emang cuma nggak putih aja (sama
Bawel dan gendut – oh wait, banyak ya).
Tapi
ternyata nggak pernah cukup.
Kita tuh nggak sadar, pasangan kita
juga ada kali yang deketin, tapi mereka nggak
nanggepin.
Ada satu temen saya, cowok namanya kita samarkan nabila jkt48..sekali lagi ingat nabila ini cowok.masa bodo saya mau kasih nama samaran apa.next,,,
Si nabila(cowok loh) yang ngebangga-
banggain selingkuhannya. Trus saya jawab
“Hati-hati… elo lagi selingkuh ama dia, padahal
di rumah lo bini lo lagi dideketin tetangga
sebelah. Bini lo kurang cantik apa, sih?”
Dan dia jawab, “Jangan gitu dong ngomongnya,
Yi. Ya nggak boleh lah. Jangan sampe!”
I was like… WHAAAATTTTTT?????
Seumur hidup saya, cuma satu cowok yang
ngomong, “Ya, kalau gue suatu saat selingkuh,
gue akan relain cewek gue selingkuh juga sekali.
Yang penting pada akhirnya kita sama-sama
lagi. Bukan berarti gue rela dia sama cowok lain,
tapi ya kan gue juga salah, gue nggak boleh
egois.”
Cuma satu.
Ya gimana pun juga, korban yang diselingkuhi itu
ya pahit lah.
Lo harus tahu kalau ada orang yang
lebih diperhatiin dari diri lo.
Lo harus lihat dia
memperlakukan orang lain lebih baik dari elo.
Apa
yang tadinya lo kira cuma milik lo berdua,
ternyata diberikan juga ke orang lain.
Bahkan
kadang, si selingkuhan diberi lebih banyak
daripada elo, maksudnya dalam bentuk perhatian,
waktu, perlakuan manis de el el.. It’s not like you
couldn’t do exactly the same, you just choose to
not to.
Tapi ya… susah juga. Hanya karena
kalian berdua berjalan beriringan, nggak berarti
kalian sama-sama value hubungan kalian dengan
harga yang sama.
Yang pasti, melihat pasangan
kita memuja orang lain dengan cara yang sama
atau mungkin lebih daripada dia ke kita, itu
kayak…sakitanya tu disini...alah kaya cita citata..
ada sesuatu yang direbut dari dalam
dada kita dengan paksa.
It’s a sad truth, but it’s true.
Ketakutan terbesar saya dalam hubungan, ya
itu, selingkuh.
Saya tahu pahitnya, saya tahu
sakitnya.
Berkali-kali. #alagh
Dari berbagai sudut
pandang.
Kadang saya kesal dan marah, melihat teman saya
selingkuh.
Atau memilih jadi selingkuhan.
Saat
mereka melakukan itu, dimana orang ini,
orang
yang menjadi korban in?.
Dia sedang happy,
nyiapin hadiah buat kekasihnya, padahal
kekasihnya lagi asik begini begitu sama orang
lain.
Emang, kata temen saya .temen kuliah saya yg pake kacamata(sory namanya saya samarkan.harry potter), temen saya harry potter"kita nggak bisa
mengatur apa yang orang lain akan lakukan,
seberapapun besarnya rasa sayang kita sama
orang itu. Hanya karena kita sayang dia, bukan
berarti kita bisa menuntut mereka menyayangi
kita balik dengan perasaan yang sama besarnya."
Apakah emang harus sebegitu menyedihkannya?
To be honest, I lost my trust toward everything.
Mostly about myself.
Kita bisa berusaha jadi yang
terbaik, kita bisa berusaha setia, jujur, de el el.
Tapi
pada kenyataannya, itu nggak akan cukup.
Nggak
akan pernah cukup. Menyedihkan sekali…
Then… apa yang tertinggal buat kita? Orang-
orang yang dijadikan pilihan, dan disisihkan.
Karena buat saya, rasanya udah terbukti,
berkali-kali… apapun yang kita lakuin, nggak
akan pernah cukup. Nggak akan pernah cukup
karena selalu akan ada yang lebih ganteng ato cantik, lebih
baik, lebih menarik. Selalu akan ada. Dan kita
nggak akan pernah cukup.
Harusnya baik cowok maupun cewek lihat dari dua
sisi.
Kalian merasa tertarik dengan orang lain,
menurut kalian pasangan kalian nggak gitu juga?
Kalian kesenengan ada orang lain yang deketin,
emangnya pasangan kalian nggak ada yang
deketin juga? Dan hanya, katakanlah, hubungan
kalian masih pacaran ato PEDEKATE ,(kaya temen saya dikuliahan.temen saya itu ciri2nya pake kacamata si harry potter), apakah itu berarti
hubungan itu nggak boleh dihargai? Apakah itu
berarti pasangan kalian nggak perlu diperlakukan
selayaknya manusia yang udah bersedia nemenin
hidup kalian selama beberapa waktu?
Karena yang namanya hubungan itu… nggak
cuma satu orang yang harus berkorban.
Nggak
cuma satu orang yang berusaha untuk jadi lebih
baik.
Nggak cuma satu orang yang punya
kekurangan.
Tapi dua-duanya. Kenapa orang-
orang yang selingkuh nggak bisa lihat itu?
dan parah nya saya sebagai saksi bingung bila yg selingkuh (si cewe sekelas dikuliahan saya) dan diselingkuhin adalah teman saya sendiri si harry potter...apalagi temen itu uda saya anggap saudara...yups saya sedih