Minggu, 04 Januari 2015

Malam itu....

Malam itu,
saya menikmati secangkir kopi di
sebuah kafe ato warung pingir jalan di  bekapai bersama
seorang teman lelaki yang sudah tidak bertemu
saya beberapa bulan.
Dua atau tiga bulan
mungkin.
Kami mengobrolkan hal-hal remeh,
padahal saya tahu teman saya ini baru saja putus
dengan kekasihnya.
Tapi saya memang sengaja
nggak tanya, saya nunggu dia cerita duluan.

Pada saat kami asik bengong, baru Ia cerita.

Sebelumnya, biar saya jelaskan sedikit.
Sejak
teman saya ini berbagi beberapa cerita tentang
kekasihnya, saya sudah tidak suka.
Untuk banyak
alasan, si perempuan ini mengingatkan saya pada
mantan pacar yang chauvinist dan egois, mereka
memiliki ciri-ciri yang sama dari segi perilaku.

Waktu saya masih bersama mantan saya, si teman
lelaki ini sudah mengingatkan saya bahwa mantan
saya itu tidak beres.
Dia mengatakan kekasih
saya waktu itu playgirl dan pembohong, kira-
kira seperti itu.
Yang akhirnya, ternyata hal-hal
yang pernah diucapkan teman saya, menjadi
kenyataan.
Dan dia bilang, “Aku kan udah bilang
dari duluuuu!”

Nah, kemudian kini posisinya berbalik.
Saya,
nggak suka dengan kekasihnya, karena menurut
saya, tingkahnya sama persis dengan mantan
saya.
Tapi tentu saja, saya diam saja. Si
perempuan ini meminta teman saya untuk pindah
agama demi menikahi dia.
Saya bilang, “Dia cuma
mikirin diri sendiri.
Persis kayak  Meva(mantan saya).” Tapi
tentu saja teman saya tidak peduli dengan
komentar saya, dan saya sendiri tidak tertarik
menambahkan.
Maksudnya, itu hidup dia,
terserah dia mau ngapain. Lagipula, saya pernah
ada di posisi dia.
Saat kita betul-betul
menyayangi seseorang, semuanya terasa benar,
walaupun alarm bawah sadar kita sudah
menjerit-jerit mengingatkan bahaya.

Makanya, ketika teman saya menceritakan bahwa
kekasihnya berselingkuh, saya tidak kaget.
Itu
hal yang sudah pasti akan dilakukan orang-orang
egois.
Saat mereka tidak bisa mengaturmu
menjadi sesuatu yang mereka inginkan, begitu
ada orang lain yang hadir, akan mereka sambar
begitu saja.
Saat seseorang mengalami krisis
umur dan terobsesi ingin menikah ato punya someone yg bisa dibilang nyaman buat hati mereka, mereka akan
menyambar siapa saja yang datang asal cukup
cakep dan cukup tajir.
Mereka nggak akan
mutusin pasangannya dulu, karena mereka
maunya saat mereka pergi, sudah ada yang
datang menyambut mereka dengan kepastian.

Makanya saya bilang egois. Makanya jenis
seperti mereka pasti selingkuh.

“Padahal beberapa waktu sebelumnya dia yang
menangis, dan meminta saya tidak mengakhiri
hubungan kami. Begitu saya sudah mantap,
ngomong ke orang tua, tiba-tiba dia bilang dia
sudah bersama lelaki lain dan ingin mengakhiri
hubungan kami.”

Saya jawab,
“Persis sama dengan mantan saya.
Waktu saya ajak putus baik-baik, ia menangis.
Saat itu saya berpikir, oh, mungkin dia benar-
benar sayang saya. Oke, saya akan berjuang
bersama dia. Tapi apa? Ternyata diam-diam di
belakang saya dia mendekati beberapa
Pria, minta pada teman-temannya untuk
menjodohkan dia dengan pria single. Tiba-
tiba sudah sayang-sayangan sama pria
lain di belakang saya.”

Yang mantan saya tidak tahu. Saya mengajak dia
putus karena saya kasihan sama dia.
Saya
sayang, benar-benar sayang sama dia (waktu
itu), tapi saya tahu saya nggak akan bisa jadi
pria yang dia mau.
Saya nggak mungkin
pindah agama karena diminta orang lain.
Dan
saya rela melepas dia, biar dia bisa mencari
pria yang sesuai dengan mau dia.
Padahal
untuk mutusin dia waktu itu pun, saya
sebenarnya ingin menangis, ketakutan, tidak
siap.
Tapi semua saya sembunyikan.
Saya ingin
mempermudah hidupnya, dan membiarkan dia
berbahagia dengan orang lain.

Dan reaksinya, menangis, membuat saya berpikir,
bahwa hubungan kami layak diperjuangkan.

Bahwa dia, layak diperjuangkan. Bahwa ia
menangis dan tak mau melepas saya, karena ia
menyayangi saya.

Sama seperti teman lelaki saya.
Tangisan
(mantan) kekasihnya, membuat dia berpikir,
wanita ini berharga, hubungan ini layak
diperjuangkan.
Dan wanita ini, mencintainya
setulus hati.

Kami berdua salah.
Kami ditipu.
Later I knew, kata mantan saya, dia menangis
bukan karena sayang saya.
Dia sudah tidak
sayang saya waktu itu, katanya. Dia menangis
hanya karena kasihan sama saya, kalau kami
putus, nanti saya jadi sendirian.
Kasihan kalau putus, tapi nggak kasihan kalau
selingkuh, ya? Nggak kasihan kalau
pedekate sama cowo-cowo lain di belakang
saya ya?

Dari pembicaraan dengan teman saya, saya jadi
mengerti.

Saya sampai pada satu kesimpulan.
Ada beda yang besar,
antara
seseorang yang
memperjuangkanmu, dengan
seseorang yang sekedar
memenjarakanmu.

Ketika kalian tidak bahagia dan ingin pergi,
namun pasangan kalian menahan mati-matian
dengan menangis atau menyakiti diri sendiri, itu
bukan karena ia menyayangimu. Bukan.

Tapi
karena ia lebih menyayangi dirinya sendiri
daripada kamu.

Dia nggak peduli kamu harus
bahagia, sedih, atau tertekan.

Bagi orang egois
seperti itu, bagi mereka, yang paling penting
hanya kebahagiaan mereka.

Kalian cuma tools (barang yg menurut saya bekas)dianggap barang
untuk memenuhi ego mereka.
Karena ketika ada tools yang lebih baik dan lebih
mendekati keinginan mereka, mereka nggak akan
segan untuk memilih opsi tersebut, baru
kemudian meninggalkan kalian.

Mereka tidak akan repot-repot berusaha
memperlakukan kalian dengan lebih baik dan lebih
terhormat.
Mereka tidak akan menghargai apa
yang kalian berdua punya (atau pernah punya),
atau perjuangan yang kalian sudah lewati,
perasaanmu, apalagi dirimu. Karena buat
mereka, buat orang-orang egois ini, yang
berharga cuma kebahagiaan mereka sendiri.

Buat mereka, tidak masalah kalau harus
menghancurkan kalian atau membuat kalian
menangis, karena mereka hanya perlu menutup
mata dan telinga, lalu hidup bahagia dengan
“barang” baru mereka.

Yang sesuai dengan
keinginan mereka.
Orang-orang seperti ini memang ada, kok.(bahkan dikuliahan saya ada satu cewe bejat) Dan
mereka rata-rata memang punya ciri-ciri dan
perilaku yang sama.

Jadi… kalau pasangan kalian
menunjukkan hal-hal yang mirip dengan mantan
kekasih saya dan teman saya, hati-hati aja.

karena hidup adalah pelajaran tentang rasa sakit..saya yakin entah kapan kalian pasti ngalami yg namanya rasa sakit seperti saya dan teman saya alami..hahahah tumben bijak saya

Tidak ada komentar:

Posting Komentar